14. Disiplin Kerja Bangsa Jepang
Faktor keberhasilan dan kehebatan bangsa Jepang terletak pada disiplin kerja yang tinggi. PADA DASARNYA, etos dan budaya kerja orang Jepang tidak jauh berbeda dengan bangsa
Jepang yang lebih berhasil dan maju dibandingkan bangsa
tersebut memposisikan mereka sejajar dengan bangsa Barat. Jika dilihat dari
segi fisik, tubuh orang Jepang lebih kecil dibandingkan bangsa Asia Iainnya.
Bahkan, ukuran fisik mereka tidak sebanding dengan ukuran fisik orang Barat.
Meskipun demikian, bangsa Jepang adalah bangsa yang maju.
Dari segi makanan, tidak ada perbedaan yang mencolok antara bangsa Jepang dengan bangsa lain di wilayah ini. Bangsa Jepang makan nasi. Begitu juga dengan
bangsa Cina dan Melayu. Bahkan, nasi yang dimakan bangsa Cina dan Melayu lebih
banyak daripada bangsa Jepang. Jika dinilai dan segi kepintaran dalam bisnis,
bangsa Cina lebih hebat berbisnis dibandingkan orang Jepang. Jadi, apakah
sebenarnya faktor yang menyebabkan bangsa Jepang menjadi bangsa yang hebat dan
dikagumi masyarakat dunia? Apakah kelebihan dan keistimewaan bangsa Jepang?
Apakah ciri khas mereka sehingga menjadi bangsa yang pintar? Sebenarnya, keberhasilan dan kehebatan bangsa Jepang terletak pada disiplin kerja mereka yang tinggi. Disiplin itulah yang membentuk sikap dan semangat
kerja keras pada bangsa Jepang. Disiplin juga menjadikan mereka patuh pada
perusahaan dan mau melakukan apa pun demi keberhasilan perusahaan mereka. Orang
Jepang sanggup berkorban dengan bekerja lembur tanpa mengharapkan bayaran. Bagi
orang Jepang, jika hasil produksi meningkat dan perusahaan mendapat keuntungan
besar, secara otomatis mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal. Dalam
pikiran dan jiwa mereka, hanya ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sebaik
mungkin. Mereka mencurahkan seluruh komitmen pada pekerjaan.
Disiplin dikaitkan dengan harga diri. Jika mengalami kegagalan, maka bukan organisasi dan perusahaan yang menanggung malu, melainkan para pekerja yang
akan merasa malu dan kehilangan harga diri. Jadi, untuk menjaga harga diri
nama, dan citra diri yang baik, mereka harus memastikan keberhasilan organisasi
dan perusahaan. Oleh karena itu, tidak heran orang Jepang sanggup bekerja
mati-matian untuk memajukan perusahaan dan organisasinya. Mereka senang jika
disebut sebagai pekerja keras. Mereka merasa dihargai jika diberikan pekerjaan
dan tugas yang berat. Sebaliknya, mereka merasa terhina dan tidak berguna jika
tidak diberikan suatu pekerjaan yang menantang. Orang Jepang rela menghabiskan
waktu mereka di tempat kerja daripada pulang lebih cepat ke rumah.
Keadaan ini sangat berbeda dengan budaya kerja orang
selalu ingin pulang lebih cepat. Sebagian dari kita menganggap pulang bekerja
lebih cepat merupakan suatu cerminan status sosial yang lebih tinggi. Hal itu
berbeda dengan pandangan orang Jepang. Di Jepang, orang yang pulang lebih cepat
dianggap sebagai pekerja yang tidak penting dan tidak produktif. Ukuran nilai
dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang
dihabiskannya di tempat kerja.
Hal itu berbeda dengan budaya kerja kebanyakan orang di Negara-negara lain. Biasanya, para pekerja itu hanya bersedia bekerja lembur jika diberikan bayaran
dan insentif lainnya. Jika tidak, maka mereka tidak bekerja dengan
sungguh-sungguh. Keadaan seperti itu tidak terjadi di Jepang. Di
pekerja memberi perhatian penuh dan fokus pada pekerjaan mereka. Jika tidak
diawasi pun mereka bekerja dengan baik dan tidak malas. Setiap pekerjaan
dilakukan dengan penuh disiplin dan dedikasi.
Namun, bukan berarti orang Jepang tidak mempunyai masa bersantai. Mereka bersantai setelah selesai bekerja. Yang mengherankan adalah orang Jepang selalu
datang ke tempat kerja tepat waktu meskipun pada malam harinya mereka
bersenang-senang di tempat hiburan dan terkadang minum sampai mabuk. Mereka
selalu datang tepat waktu dan bekerja seperti biasa.
Sebenarnya, sikap disiplin bangsa Jepang tidak ada bandingannya. Mereka golongan pekerja yang paling disiplin. Orang yang tidak memiliki disiplin
tinggi dianggap tidak layak bekerja dengan mereka. Orang Jepang tidak bisa
berkompromi dengan hal yang berkaitan dengan disiplin. Hal itu mirip dengan
sebagian masyarakat
berkaitan dengan adat.